Aku memulai buku How Democracies Die dengan rasa penasaran yang sederhana: bagaimana sebenarnya demokrasi runtuh? Apakah lewat kudeta? Tank di jalan? Atau revolusi besar? Ternyata jawabannya lebih sunyi. Lebih pelan. Dan justru itu yang menakutkan. Buku ini membuatku sadar bahwa demokrasi tidak mati karena satu tokoh, tetapi karena pembiaran kolektif yang perlahan menjadi kebiasaan. Sejak introduction, aku langsung tertarik pada dua norma yang menurut Levitsky dan Ziblatt menjadi pagar tak terlihat demokrasi: mutual toleration dan institutional forbearance . Mutual toleration berarti kita mengakui lawan politik sebagai rival yang sah, bukan musuh yang harus dimusnahkan. I nstitutional forbearance berarti menahan diri—tidak menggunakan seluruh kekuasaan legal yang kita punya hanya karena kita bisa. Dua norma ini tidak tertulis di konstitusi mana pun. Tapi tanpa mereka, demokrasi hanya tinggal prosedur kosong. Semakin aku membaca, semakin aku sadar bahwa demokrasi bukan hanya ...
Welcome! Now you can see what's inside my mind. Writing will always be my self-defense, my medium. When the tongue can't form words, I find solace and joy in putting thoughts into writing, crafting a sanctuary where emotions dance on the pages. I believe that words have the ability to connect, inspire, and heal. So, welcome to the gallery of my mind, where every word is a stroke of the brush in the masterpiece of life.