Langsung ke konten utama

Postingan

Dalam Sebuah Bab Panjang Tentang Memaafkan

  “..Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf..”  (Al-Araf:199) “…Maka, maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang muhsin.”  (Al-Maidah:13) “…Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (An-Nur:22) “..dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”  (Ali-Imran:134) “…siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah..”  (As-Syuara:40 Aku mengutip banyak ayat perihal memaafkan, untuk melapangkan dadaku dari amarah dan dendam yang mengendap. Bahwa sesungguhnya manusia tidak luput dari kesalahan demi kesalahan setiap helaan nafas. Maka, memaafkan adalah jalan ampunan Allah. Bahwa Allah maha melihat dan maha mengetahui, apapun yang ada di dunia ini tidak pernah luput dari penglihatan-Nya. Maka, aku harusnya tak p...
Postingan terbaru

Kontradiktif

  Langit dan batin saling bersilang, seperti  dua cermin yang tidak pernah benar-benar sepakat. (i) Malam baru saja bertahta di angkasa. Sayup-sayup puji-pujian terdengar di mikrofon masjid. Di waktu yang menenangkan itu, aku membaringkan diriku di atas genteng, membiarkan angin membelai kulitku dengan lembut. Angin malam juga turut menggerakkan daun-daun taman di atas gentengku, lalu ranting dan pohon di sebelah rumahku. Sudah cukup lama aku tidak ke genteng dan melihat langit, rutinitas yang dulu aku kerap lakukan untuk menjernihkan pikiran, atau meredam emosi, atau hanya ingin melamun mencari ketenangan. Dulu rasanya setiap hari batinku selalu bergejolak, dan melihat langit adalah salah satu cara meredakannya. Sambil melihat langit, aku menumpahkan perasaanku, menangis tanpa suara. Sudah lama sekali sejak batinku bergejolak, kini rasanya sudah jauh lebih tenang terkendali. Aku tidak bisa mengatakan aku sudah pulih sepenuhnya, tapi aku yakin aku menuju ke tahap itu. Semesta ...

Refleksiku setelah membaca How Democracies Die

Aku memulai buku How Democracies Die dengan rasa penasaran yang sederhana: bagaimana sebenarnya demokrasi runtuh? Apakah lewat kudeta? Tank di jalan? Atau revolusi besar? Ternyata jawabannya lebih sunyi. Lebih pelan. Dan justru itu yang menakutkan. Buku ini membuatku sadar bahwa demokrasi tidak mati karena satu tokoh, tetapi karena pembiaran kolektif yang perlahan menjadi kebiasaan. Sejak introduction, aku langsung tertarik pada dua norma yang menurut Levitsky dan Ziblatt menjadi pagar tak terlihat demokrasi: mutual toleration dan institutional forbearance . Mutual toleration berarti kita mengakui lawan politik sebagai rival yang sah, bukan musuh yang harus dimusnahkan. I nstitutional forbearance berarti menahan diri—tidak menggunakan seluruh kekuasaan legal yang kita punya hanya karena kita bisa. Dua norma ini tidak tertulis di konstitusi mana pun. Tapi tanpa mereka, demokrasi hanya tinggal prosedur kosong. Semakin aku membaca, semakin aku sadar bahwa demokrasi bukan hanya ...

What Remains After The Great Gatsby-Scott Fitzergald

  I decided to read—and eventually buy— The Great Gatsby  after Haruki Murakami recommended it in his memoir  What I Talk About When I Talk About Running . Murakami wrote: “The Great Gatsby is a truly extraordinary novel. I never tire of its story, no matter how many times I read it. It is a work of literature that enriches you each time you open it. Every rereading reveals something new, something fresh.” At first, the story felt painfully slow. I even put the book down for almost two weeks—despite its slim length of just over a hundred pages. Jazz Age America, seen through Nick Carraway’s eyes, appeared hollow to me: a world filled with etiquette, polite conversations, and quiet arrogance. Everything shifted the moment Nick met Jay Gatsby. Something clicked. From that point on, I could no longer stop turning the pages. Gatsby stood apart from the people of East Egg and West Egg—mysterious, hopeful, and perhaps the only character who possessed a sincere emotional core in...

My Thought on Animal Farm-George Orwell

  George Orwell's  Animal Farm  is an immensely powerful political allegory, originally crafted as a satirical reflection of Stalinism, but it continues to resonate deeply with today's political landscape. Through the lens of a seemingly simple tale about a group of farm animals rebelling against their human oppressor, Orwell weaves a timeless narrative about the corrupting influence of power, and how idealistic revolutions can devolve into oppressive regimes. At its core,  Animal Farm  mirrors the events of the Russian Revolution, but what makes it timeless is the broader, more universal themes that Orwell masterfully explores. The pigs, who assume control after the rebellion, gradually adopt the same authoritarian practices they initially sought to overthrow. The famous line "All animals are equal, but some animals are more equal than others" encapsulates the betrayal of ideals that often occurs when power is centralized in the hands of a few. This theme isn't...

in the transience of life

  Hari ini aku iseng menelusuri Google Maps sebuah pemakaman elit. Banyak kerabat mendiang menandai makam keluarganya di sana. Satu per satu nama ku telusuri jejak hidupnya. Jejak hidup mereka seolah masih hangat, tersimpan rapi di internet: potongan kenangan, foto, kisah, dan jejak kehidupan yang tampaknya dijalani dengan baik. Mereka (kurasa) menjalani hidup yang baik, sangat kecukupan dan mendapatkan cinta yang layak. Pemakaman elit itu pasti diisi oleh mendiang dengan finansial keluarga yang berada. Dari jejak hidup yang ku pelajari juga begitu; titel pekerjaan yang bagus, menikah di hotel mewah, kehidupan yang secara material sangat layak.  Namun, di kesementaraan hidup ini, seseorang yang punya segalanya pun tidak membawa apapun dalam kematiannya. Mereka kembali apa adanya. Tubuh yang dirawat, dijaga, dan dibanggakan pun pada akhirnya akan luruh, pelan-pelan kembali ke alam, menjadi bagian dari siklus yang tak pernah memilih status. Pada titik itu, mereka mempersembahkan...

#PrayForSumatera AYO TERUS BERISIK SOAL BENCANA DI SUMATERA

Dalam teori Spiral of Silence yang dikemukakan Elisabeth Noelle-Neumann, diam bukanlah kondisi netral. Diam adalah hasil dari rasa takut—takut dikucilkan, takut diserang, takut dianggap berlebihan atau politis. Ketika opini tertentu terus-menerus didengungkan sebagai “normal”, “aman”, dan “baik-baik saja”, sementara opini kritis ditekan atau dipatahkan, maka yang terjadi bukan konsensus, melainkan ilusi persetujuan publik. Inilah yang terjadi dalam isu banjir Sumatera. Narasi pemerintah yang menyebut situasi “terkendali” dan “masih bisa ditangani” berulang kali disuarakan melalui kanal resmi dan media arus utama. Dalam kerangka Spiral of Silence , pengulangan ini membentuk iklim opini dominan —seolah-olah semua orang sepakat bahwa banjir ini bukan masalah serius. Akibatnya, masyarakat yang mengalami penderitaan langsung, atau netizen yang melihat kejanggalan struktural di balik bencana tersebut, mulai ragu untuk bersuara. Mereka takut dianggap membesar-besarkan, menunggangi isu, ata...