Malam ini saat asyik scroll-scroll X, aku menemukan sebuah bahasan tentang George Orwell. Penulis karya klasik legendaris itu dituduh rapist. Tentu saja bahasan itu menimbulkan pro dan kontra, ada yang langsung menunjukkan sikap boykot terhadap semua karyanya, ada pula pendapat yang mengatakan kalau karya itu harus dipisahkan dari pribadi penciptanya. Kata pendapat yang kedua tadi, kita tidak boleh menafikan peran George Orwell pada dunia sastra klasik, bagaimana otaknya yang brilian sudah menulis berbagai macam buku bertema politik dan memperingatkan bahaya otoritarian dengan sangat cerdik. Aku pribadi yang menyukai karya Orwell—meski baru baca 2 karyanya: 1984 dan Animal Farm—terserang dilema moral. Di satu sisi tuduhan bahwa Orwell adalah pelaku pemerkosaan bukan fakta hukum yang terbukti dan masih menjadi perdebatan akademik. Dalam artian kasus ini masih sangat abu-abu. Tidak ada putusan hukum atau konsensus sejarah yang menyatakan ia pelaku kekerasan seksual. Tapi juga dalam...
“..Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf..” (Al-Araf:199) “…Maka, maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang muhsin.” (Al-Maidah:13) “…Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur:22) “..dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali-Imran:134) “…siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah..” (As-Syuara:40 Aku mengutip banyak ayat perihal memaafkan, untuk melapangkan dadaku dari amarah dan dendam yang mengendap. Bahwa sesungguhnya manusia tidak luput dari kesalahan demi kesalahan setiap helaan nafas. Maka, memaafkan adalah jalan ampunan Allah. Bahwa Allah maha melihat dan maha mengetahui, apapun yang ada di dunia ini tidak pernah luput dari penglihatan-Nya. Maka, aku harusnya tak p...