At least we are safe from the Big Bang, billions of years ago where light tore itself from nothing Even when you and I were miles apart across unmeasured distances a fragment of you still wandered toward mine in our umpteenth life I wait for your touch, longingly The galaxies revere your name and for your smile, I would collapse— oh, your smile, so fleeting. At least we are safe from the deadly yearning of an old, dying star Never let us drift too far— come closer to me at dusk, as I grow brittle. But at least we are safe from a falling meteor that could destroy us and time freezes for a little longer Yet your voice bends space around me, keeping me warm against the indifferent dark. At least—before everything unravels into the void— we are still, somehow, each other’s shelter. —VIC
Malam ini saat asyik scroll-scroll X, aku menemukan sebuah bahasan tentang George Orwell. Penulis karya klasik legendaris itu dituduh rapist. Tentu saja bahasan itu menimbulkan pro dan kontra, ada yang langsung menunjukkan sikap boykot terhadap semua karyanya, ada pula pendapat yang mengatakan kalau karya itu harus dipisahkan dari pribadi penciptanya. Kata pendapat yang kedua tadi, kita tidak boleh menafikan peran George Orwell pada dunia sastra klasik, bagaimana otaknya yang brilian sudah menulis berbagai macam buku bertema politik dan memperingatkan bahaya otoritarian dengan sangat cerdik. Aku pribadi yang menyukai karya Orwell—meski baru baca 2 karyanya: 1984 dan Animal Farm—terserang dilema moral. Di satu sisi tuduhan bahwa Orwell adalah pelaku pemerkosaan bukan fakta hukum yang terbukti dan masih menjadi perdebatan akademik. Dalam artian kasus ini masih sangat abu-abu. Tidak ada putusan hukum atau konsensus sejarah yang menyatakan ia pelaku kekerasan seksual. Tapi juga dalam...