Langsung ke konten utama

Dilema Moral (Isu George Orwell Rapist)





 Malam ini saat asyik scroll-scroll X, aku menemukan sebuah bahasan tentang George Orwell. Penulis karya klasik legendaris itu dituduh rapist. Tentu saja bahasan itu menimbulkan pro dan kontra, ada yang langsung menunjukkan sikap boykot terhadap semua karyanya, ada pula pendapat yang mengatakan kalau karya itu harus dipisahkan dari pribadi penciptanya. Kata pendapat yang kedua tadi, kita tidak boleh menafikan peran George Orwell pada dunia sastra klasik, bagaimana otaknya yang brilian sudah menulis berbagai macam buku bertema politik dan memperingatkan bahaya otoritarian dengan sangat cerdik.


Aku pribadi yang menyukai karya Orwell—meski baru baca 2 karyanya: 1984 dan Animal Farm—terserang dilema moral. Di satu sisi tuduhan bahwa Orwell adalah pelaku pemerkosaan bukan fakta hukum yang terbukti dan masih menjadi perdebatan akademik. Dalam artian kasus ini masih sangat abu-abu. Tidak ada putusan hukum atau konsensus sejarah yang menyatakan ia pelaku kekerasan seksual. Tapi juga dalam konteks kasus sexual assault, meski masih abu-abu, kita sebisa mungkin harus berpihak pada korban. 


Jika kita melihat pada masa George Orwell hidup (era awal–pertengahan abad ke-20), negara Barat saat itu belum memiliki definisi hukum kekerasan seksual yang sejelas sekarang. Saat itu marital rape (seperti yang dituduhkan kepada Orwell terhadap istrinya dalam sebuah artikel) bahkan belum diakui sebagai kejahatan. Lalu, korban perempuan sering menghadapi stigma sosial besar. Selain itu, proses hukum sering memihak laki-laki. Jadi memang secara struktural, sistem hukum saat itu kurang berpihak pada korban perempuan dibanding standar modern.


Lalu yang menjadi pertimbanganku selanjutnya adalah standar moral zaman dulu yang berbeda dari zaman sekarang. Seperti contoh banyak tokoh filsuf zaman dulu (Plato, Aristoteles, Rosseau, dan banyak lagi) kalau dinilai dengan standar moral modern, akan terlihat problematik.


Selanjutnya kegundahanku lagi terletak pada aspek sosiolog-antropologi sebuah karya—khususnya karya sastra, memang tidak bisa terlepas dari penciptanya. Karena karya sering kali menjadi cermin nilai, sudut pandang, serta posisi sosial penulisnya. Perspektif ini menuntut konsistensi etika personal dalam menikmati sebuah karya.


Jujur karena kegalauan ini aku jadi merasa inkonsisten secara moral. Ketika aku mengetahui suatu karya ditulis oleh penulis zionis (atau mendukung zionisme) pasti tanpa ragu aku akan memboikotnya. Tapi pada kasus Orwell ini—meski belum tentu kebenarannya—nuraniku masih diliputi dilema moral. Jujur aku bukan rapist enabler, sama sekali bukan. Tapi, entah kenapa ada sebagian diriku mau tetap baca bukunya Orwell, dan sedikit rasa di diriku bersalah terhadap korbannya. Aku sadar kalau moralitas manusia jarang cuma hitam-putih. Barangkali aku masih belajar mencerna dunia yang tidak selalu sederhana ini. 


Aku sadar kita hidup di zaman yang berbeda dengan George Orwell. Di zaman kita hidup sekarang, gerakan women empowerment sudah semakin masif. Kesadaran tentang kekerasan seksual juga meningkat karena pengaruh teknologi informasi yang serba instan. Aku tidak bisa menilai masa lalu dengan kacamata moral masa kini. Itu bisa membantu membuka kebenaran, tapi juga berisiko menimbulkan distorsi bila konteks sejarah tidak lengkap.


Yang bisa aku lakukan sekarang adalah berdiri di tengah dengan kegundahan moralku. Bisa dibilang sikapku ini abu-abu. Mungkin aku akan tetap membaca buku George Orwell dengan anggapan bahwa membaca dan menghargai karyanya tidak sama dengan membela semua tindakan penciptanya. Aku akan tetap membaca dengan kesadaran kritis, tanpa lagi memuja George Orwell sebagai figur moral. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Supernova

  Million bulbs in the void, bursts into a piece as its light disperse, like a supernova, we dwell in the fading light, fight against gravity and grow red, restart, become blue with fury, sedated by dark, concourse into the blackhole, turning it into a singularity, succumbing to the demise, reconciled with eternity. We were once scintilation, before we collapse into one, so what are we now? -vic

To Be Small Before the Divine

The storm within me has known no rest. It visits in the hush between dawn and prayer, when the world still slumbers, and my thoughts grow loud. The earth spins swiftly on its axis, chasing the sun with relentless haste, yet here I stand—tethered, heavy, slow. My soul lags behind the march of men; I watch the days unravel like threads slipping from weary hands. I meet countless faces, radiant and certain, yet within me, doubt stirs like a restless tide. I ask myself,  Who am I in the vast decree of His creation?  A breath among storms, a grain among mountains, a spark that flickers, known only to the One who kindled it. The world teaches us to run—to build, to gather, to proclaim our worth upon fragile pedestals—but my heart whispers another truth: that to diminish oneself before the Divine is the only way to truly rise. For what glory can man claim when his end is dust, when his pulse is but a loan from the Almighty? I have seen men boast of their light, yet forget that light ...

O, distant memory

How’s life, O distant memory? With hesitant steps I try to come closer You seemed reluctant to draw near. and I guess I can understand. You kept the space just as it is, But only for tonight Maybe you’ll let us talk about world’s history and conspiracy theories, and you will listen to my rumbles until dawn comes. But I can’t keep my eyes open any longer. The voice of sunrise arrives, and it becomes the end of our conversation. What’s new, O distant memory? Too late to greet you, ain’t I? You seem to drift farther along our broken line. Yet for now, let me hold you in my hand. We’ll shoot the bull about the parallel universe we used to dream of— because in this universe, we’ve wasted so much time. But I guess what happens, happens. I let you drift away through the clouds. I let myself stay still in possibility and impossibility. Will I always be reminiscing you? Will I find my way to you? O, distant memory Wander home to the silent shore  —vic