Langsung ke konten utama

in the transience of life

 Hari ini aku iseng menelusuri Google Maps sebuah pemakaman elit. Banyak kerabat mendiang menandai makam keluarganya di sana. Satu per satu nama ku telusuri jejak hidupnya. Jejak hidup mereka seolah masih hangat, tersimpan rapi di internet: potongan kenangan, foto, kisah, dan jejak kehidupan yang tampaknya dijalani dengan baik. Mereka (kurasa) menjalani hidup yang baik, sangat kecukupan dan mendapatkan cinta yang layak.

Pemakaman elit itu pasti diisi oleh mendiang dengan finansial keluarga yang berada. Dari jejak hidup yang ku pelajari juga begitu; titel pekerjaan yang bagus, menikah di hotel mewah, kehidupan yang secara material sangat layak. 


Namun, di kesementaraan hidup ini, seseorang yang punya segalanya pun tidak membawa apapun dalam kematiannya. Mereka kembali apa adanya. Tubuh yang dirawat, dijaga, dan dibanggakan pun pada akhirnya akan luruh, pelan-pelan kembali ke alam, menjadi bagian dari siklus yang tak pernah memilih status.


Pada titik itu, mereka mempersembahkan diri mereka yang apa adanya, pulang ke pangkuan Tuhan. 


Di kesementaraan hidup ini, aku, kamu, kita semua, manusia berusaha hidup sebaik-baiknya, untuk pulang tanpa membawa material apapun. Berlomba-lomba menuju kefanaan. 


Di antara hidup yang tampak penuh dan kematian yang kosong, manusia hanya berjalan, menamai hal-hal, mencintai sebentar, lalu menghilang. Selebihnya, dunia mengurus dirinya sendiri.


Mungkin hidup memang seperti itu. Kita mengisi hari-hari dengan hal-hal yang terasa penting, sampai suatu titik semuanya berhenti. Lalu kita menyadari: tidak ada satu pun yang benar-benar ikut bersama kita, selain kesunyian yang sejak awal menunggu.


كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ



“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (Al-Anbiya:35)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Supernova

  Million bulbs in the void, bursts into a piece as its light disperse, like a supernova, we dwell in the fading light, fight against gravity and grow red, restart, become blue with fury, sedated by dark, concourse into the blackhole, turning it into a singularity, succumbing to the demise, reconciled with eternity. We were once scintilation, before we collapse into one, so what are we now? -vic

To Be Small Before the Divine

The storm within me has known no rest. It visits in the hush between dawn and prayer, when the world still slumbers, and my thoughts grow loud. The earth spins swiftly on its axis, chasing the sun with relentless haste, yet here I stand—tethered, heavy, slow. My soul lags behind the march of men; I watch the days unravel like threads slipping from weary hands. I meet countless faces, radiant and certain, yet within me, doubt stirs like a restless tide. I ask myself,  Who am I in the vast decree of His creation?  A breath among storms, a grain among mountains, a spark that flickers, known only to the One who kindled it. The world teaches us to run—to build, to gather, to proclaim our worth upon fragile pedestals—but my heart whispers another truth: that to diminish oneself before the Divine is the only way to truly rise. For what glory can man claim when his end is dust, when his pulse is but a loan from the Almighty? I have seen men boast of their light, yet forget that light ...

My September in the Midst of Chaos

(I made this on September, 3rd, 2025)   This September feels so heavy in Indonesia. Everywhere I turn, the news is filled with protests, anger, and heartbreak.  The unrest began in August, when public anger erupted over lawmakers’ lavish housing perks—benefits so excessive they felt like mockery against the struggles of ordinary people. That anger only deepened with the tragedy of Affan Kurniawan, a young motorcycle taxi driver killed by an armored police vehicle during a demonstration. His death, caught on camera, became a symbol of injustice and sparked a wave of grief and rage. That image has stayed with me, as it has with so many others. Now the unrest has spread across the country—Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar. Protesters fill the streets, government buildings and police stations are burned, and casualties keep rising. Security forces respond with tear gas, arrests, and armored vehicles, while leaders seem distant, even absent. Watching President Prabowo attend a m...