Hari ini aku iseng menelusuri Google Maps sebuah pemakaman elit. Banyak kerabat mendiang menandai makam keluarganya di sana. Satu per satu nama ku telusuri jejak hidupnya. Jejak hidup mereka seolah masih hangat, tersimpan rapi di internet: potongan kenangan, foto, kisah, dan jejak kehidupan yang tampaknya dijalani dengan baik. Mereka (kurasa) menjalani hidup yang baik, sangat kecukupan dan mendapatkan cinta yang layak. Pemakaman elit itu pasti diisi oleh mendiang dengan finansial keluarga yang berada. Dari jejak hidup yang ku pelajari juga begitu; titel pekerjaan yang bagus, menikah di hotel mewah, kehidupan yang secara material sangat layak. Namun, di kesementaraan hidup ini, seseorang yang punya segalanya pun tidak membawa apapun dalam kematiannya. Mereka kembali apa adanya. Tubuh yang dirawat, dijaga, dan dibanggakan pun pada akhirnya akan luruh, pelan-pelan kembali ke alam, menjadi bagian dari siklus yang tak pernah memilih status. Pada titik itu, mereka mempersembahkan...
Dalam teori Spiral of Silence yang dikemukakan Elisabeth Noelle-Neumann, diam bukanlah kondisi netral. Diam adalah hasil dari rasa takut—takut dikucilkan, takut diserang, takut dianggap berlebihan atau politis. Ketika opini tertentu terus-menerus didengungkan sebagai “normal”, “aman”, dan “baik-baik saja”, sementara opini kritis ditekan atau dipatahkan, maka yang terjadi bukan konsensus, melainkan ilusi persetujuan publik. Inilah yang terjadi dalam isu banjir Sumatera. Narasi pemerintah yang menyebut situasi “terkendali” dan “masih bisa ditangani” berulang kali disuarakan melalui kanal resmi dan media arus utama. Dalam kerangka Spiral of Silence , pengulangan ini membentuk iklim opini dominan —seolah-olah semua orang sepakat bahwa banjir ini bukan masalah serius. Akibatnya, masyarakat yang mengalami penderitaan langsung, atau netizen yang melihat kejanggalan struktural di balik bencana tersebut, mulai ragu untuk bersuara. Mereka takut dianggap membesar-besarkan, menunggangi isu, ata...