(i)
Malam baru saja bertahta di angkasa. Sayup-sayup puji-pujian terdengar di mikrofon masjid. Di waktu yang menenangkan itu, aku membaringkan diriku di atas genteng, membiarkan angin membelai kulitku dengan lembut. Angin malam juga turut menggerakkan daun-daun taman di atas gentengku, lalu ranting dan pohon di sebelah rumahku. Sudah cukup lama aku tidak ke genteng dan melihat langit, rutinitas yang dulu aku kerap lakukan untuk menjernihkan pikiran, atau meredam emosi, atau hanya ingin melamun mencari ketenangan. Dulu rasanya setiap hari batinku selalu bergejolak, dan melihat langit adalah salah satu cara meredakannya. Sambil melihat langit, aku menumpahkan perasaanku, menangis tanpa suara. Sudah lama sekali sejak batinku bergejolak, kini rasanya sudah jauh lebih tenang terkendali. Aku tidak bisa mengatakan aku sudah pulih sepenuhnya, tapi aku yakin aku menuju ke tahap itu. Semesta menggerakan hidupku ke arah yang lebih baik. Satu per satu doa-doa yang kuaminkan menjadi nyata. Petir yang bergemuruh dahsyat tempo hari sudah ditenangkan, kadang masih bergemuruh di waktu-waktu tertentu, tapi tidak mematikan seperti sebelumnya.
Beberapa tahun lalu, aku di sini melihat langit malam dan mengabsen satu per satu bintang dengan perasaan kalut. Kala itu bintang bertebaran di atas kepalaku, namun hatiku gelap dan penuh kabut. Lalu seiring waktu gelap dan kabut itu memudar, entah sementara atau seterusnya, tapi sejauh ini aku tidak kalut lagi.
Lamunanku terhenti saat azan isya berkumandang dengan merdu. Rasanya lega dan menenangkan sekali. Saat ini, di atas kepalaku hanya ada gelap dan awan tebal. Bulan dan bintang enggan muncul. Namun hatiku penuh bintang. Seisi hatiku dipenuhi galaksi bimasakti, gugusan bintang yang tidak terhingga jumlahnya.
Menyadari betapa ajaib dan misteriusnya waktu, yang membolak-balikan hati, yang menyembuhkan jiwa, aku terhenyak. Karena rupanya aku begitu disayangi hidup di dunia ini.
Aku bersyukur aku hidup.
(ii)
Malam ini cerah dan sedikit berawan. Bintang-bintang yang muncul lumayan banyak jika dibandingkan kemarin. Aku kembali menatap langit dari atas genteng. Tapi kali ini aku menatap langit dengan hati yang kalut. Tak peduli betapa banyaknya bintang yang ada di langit, hatiku kembali diselimuti gelap dan kabut tebal. Ada banyak tali kusut di selasar dada, menimbulkan sesak. Lalu sesak menjelma tangis yang turun satu per satu ke pipi. Rupanya kabut tebal yang sudah cukup lama bersembunyi kini datang lagi.
Semakin lama, semakin bintang banyak menampakan dirinya, sabuk orion bertengger di atas kepalaku. Namun kegelapan di dalam hatiku tidak mau sirna. Pandanganku tertuju pada bintang Betelgeuse, bintang favoritku. Bola merah yang terlihat samar dan redup. Bintang kesukaanku yang sedang dalam tahap kematiannya. Atau mungkin ketika aku melihatnya saat ini dia sudah mati. Mungkin seperti harapan yang kupandangi malam ini—masih bercahaya, meski entah sudah mati di dalamnya. Dari Betelgeuse, aku membayangkan masa 700 tahun yang lalu. Seperti apa di sana saat itu? Apakah langit dipenuhi rudal yang menargetkan anak-anak tidak bersalah? Apakah saat itu emas bertambah mahal setiap harinya? Apakah saat itu manusia digerayapi ketidakpastian masa depan atau bencana alam yang disebabkan keserakahan manusia, lalu menewaskan orang yang tidak tahu apa-apa.
Hatiku makin gelap rasanya. Kabut di hatiku tidak kunjung sirna. Tapi sinar bulan makin terang, dan bintang semakin banyak keluar dari tempat persembunyiannya. Memamerkan dirinya sebagai penghias langit malam.
Lalu ada aku yang maha kecil, sebagai manusia tidak berdaya. Aku takut akan hidup.
—vic


Komentar
Posting Komentar